Parepare, 13 Maret 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional kembali menuai kritik keras. Kali ini sorotan datang dari distribusi makanan yang diantar oleh SPPG ke SD Negeri 79 Parepare di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Jumat (13/3).
Foto-foto yang beredar memperlihatkan puluhan paket makanan diturunkan dari mobil dan ditumpuk langsung di lantai, hanya dibungkus plastik tipis. Isi paket terlihat sederhana: roti dan beberapa makanan tambahan, tanpa terlihat komponen gizi utama yang selama ini dijanjikan dalam program MBG.
Lebih ironis lagi, menurut keterangan pengantar makanan, susu akan “menyusul kemudian.” Pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan serius: bagaimana mungkin sebuah program yang mengusung nama “makan bergizi” justru mengantar menu secara terpisah dan tidak lengkap?
Program Nasional, Prakteknya Seperti Paket Sembako Darurat. Jika melihat kondisi di lapangan, distribusi MBG di sekolah tersebut dinilai jauh dari standar program gizi nasional. Beberapa fakta yang memicu kritik tajam antara lain:
– Makanan ditaruh di lantai sebelum dibagikan, menimbulkan pertanyaan soal higienitas.
– Pengemasan hanya menggunakan plastik tipis, tanpa standar food safety yang jelas.
– Komposisi menu sangat sederhana, jauh dari konsep gizi seimbang yang dijanjikan pemerintah.
– Susu yang disebut sebagai komponen penting justru belum ada, dengan alasan “menyusul.”
Praktek seperti ini dinilai tidak mencerminkan program gizi nasional, melainkan lebih menyerupai pembagian makanan darurat tanpa standar yang jelas.
Jangan Jadikan Anak Sekolah Sebagai “Tempat Uji Coba. Program MBG diluncurkan dengan anggaran besar dan di klaim mulia, memperbaiki gizi anak Indonesia. Namun jika distribusinya seperti yang terlihat di SD Negeri 79 Parepare, publik berhak bertanya:
*Apakah program ini benar-benar dirancang untuk memperbaiki gizi anak, atau sekadar mengejar target penyaluran tanpa memperhatikan kualitas dan standar sanitasi?*
Anak-anak sekolah bukan objek eksperimen logistik. Mereka berhak mendapatkan makanan yang layak, higienis, lengkap gizinya, dan disajikan dengan standar yang jelas.
*Pemerintah Daerah Diminta Turun Tangan*
Pemerintah di Kota Parepare bersama dinas terkait perlu segera melakukan evaluasi serius terhadap operasional SPPG yang menyalurkan MBG. Jika standar gizi dan sanitasi tidak dipenuhi, maka distribusi seperti ini harus dihentikan sementara sampai sistemnya benar-benar diperbaiki.
Sebab jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, program yang seharusnya meningkatkan gizi anak justru berisiko merusak kepercayaan publik terhadap kebijakan nasional itu sendiri.
“Program besar negara tidak boleh dijalankan secara serampangan. Anak-anak sekolah bukan objek uji coba logistik dan bukan pula sekedar angka untuk memenuhi target laporan. Jika makanan yang dibagikan tidak memenuhi standar gizi dan sanitasi, maka program yang seharusnya menyelamatkan masa depan justru berubah menjadi bukti kelalaian yang memalukan.”
Mereka adalah generasi masa depan yang berhak mendapatkan makanan yang benar-benar layak, higienis, dan bergizi. Jika standar dasar saja diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi program, tetapi kesehatan dan masa depan anak-anak itu sendiri.











