Jangan Sampai Lahan Produktif Hilang, Petani Terpinggirkan, dan Kota Parepare Kehilangan Ketahanan Pangan
PAREPARE, LINGNUSA. COM — Masa depan pangan Kota Parepare tidak boleh hanya dibicarakan ketika harga pangan naik atau pasokan mulai terganggu. Ketahanan pangan harus dibangun dari sekarang, salah satunya dengan memastikan lahan pertanian produktif tetap terlindungi dan petani tetap memiliki masa depan.
Pembangunan kota memang penting. Namun, pembangunan jangan sampai dilakukan dengan mengorbankan lahan-lahan produktif yang menjadi salah satu penopang kehidupan petani dan sumber pangan masyarakat.
SUDARMIN, Praktisi dan Pemerhati Petani Kota Parepare, menyatakan bahwa perlindungan terhadap lahan pertanian harus menjadi bagian penting dalam kebijakan pembangunan daerah.
«“Kalau lahan pertanian terus berkurang, jangan heran jika suatu saat kita kehilangan petani, kehilangan produksi, dan akhirnya semakin bergantung pada pangan dari luar daerah.”»
Menurutnya, persoalan petani bukan hanya soal produksi. Petani memerlukan kepastian lahan, akses terhadap sarana produksi, pendampingan, teknologi, akses pasar, harga yang layak, serta perlindungan ketika menghadapi risiko usaha tani.
Program pertanian pemerintah patut diapresiasi jika benar-benar memberikan manfaat kepada petani. Namun, program jangan berhenti pada seremonial, pembagian bantuan, atau mengejar angka produksi semata.
Yang harus menjadi ukuran keberhasilan adalah: apakah pendapatan petani meningkat? Apakah biaya produksinya semakin ringan? Apakah hasil panen memiliki pasar dan harga yang menguntungkan? Dan yang paling penting, apakah petani masih mau bertahan menggarap lahannya?
Sudarmin juga mengingatkan agar setiap kebijakan pembangunan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap sektor pertanian.
Jangan sampai hari ini kita merasa berhasil membangun kota, namun beberapa tahun kemudian justru menghadapi persoalan pangan karena lahan produktif semakin sempit dan regenerasi petani semakin lemah.
Petani Jangan Hanya Menjadikan Objek Program
Petani harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima program.
Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa kebijakan pertanian benar-benar menjawab permasalahan yang dihadapi petani di lapangan. Pengawasan terhadap program juga harus diperkuat agar setiap anggaran dan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak dan memberikan dampak nyata.
“Jangan sampai programnya banyak, anggarannya besar, tapi petaninya tetap kesulitan. Kalau itu terjadi, berarti ada yang harus dievaluasi,” tegas Sudarmin.
Menurutnya, melindungi petani bukan berarti menghambat pembangunan. Justru sebaliknya, melindungi petani dan lahan pertanian adalah bagian dari membangun ketahanan ekonomi dan pangan daerah.
Kota Parepare harus mulai memikirkan pertanian bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk 10, 20 bahkan 30 tahun ke depan.
Sebab, ketika lahan pertanian hilang, mengembalikannya tidak seperti membangun gedung.
Lahan bisa berubah fungsi dalam waktu singkat. Tetapi membangun kembali ekosistem pertanian, mencetak petani baru, dan memastikan ketersediaan pangan membutuhkan waktu yang lama.
Oleh karena itu, pesan Sudarmin sederhana namun sangat penting:
“LINDUNGI LAHAN PERTANIAN, LINDUNGI PETANI, JAGA MASA DEPAN PANGAN KOTA PAREPARE!”
SUDARMIN
Praktisi dan Pemerhati Petani Kota Parepare











