22 TAHUN SULAWESI BARAT,DARI PROVINSI PENYANGGA MENJADI GERBANG PANGAN IKN DAN EFICENTRUM TIMUR INDONESIA. 

 

Oleh Dr.Aco Musaddad HM,Staf Ahli Bupati Polewali Mandar Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan.

Dua puluh dua tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sebuah provinsi. Ia adalah ruang untuk bercermin: sejauh mana cita-cita pembentukan Sulawesi Barat telah menjelma menjadi kesejahteraan rakyat, dan ke mana provinsi ini hendak melangkah di tengah perubahan besar Indonesia.

Pada 22 September 2004, Sulawesi Barat lahir sebagai provinsi baru, melalui proses panjang perjuangan masyarakat dan ditetapkannya pembentukan Provinsi Sulawesi Barat melalui UU Nomor 26 Tahun 2004.

Kini, memasuki usia ke-22, Sulawesi Barat berada pada persimpangan sejarah yang jauh lebih besar.Ibu Kota Negara(IKN )bukan hanya proyek pembangunan di Kalimantan Timur, tetapi momentum untuk mengubah posisi geografis Sulawesi Barat menjadi keunggulan ekonomi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Sulawesi Barat memiliki potensi. Potensi itu sudah tersedia. Pertanyaannya adalah: apakah kita mampu mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi yang nyata dan dirasakan masyarakat.

IKN dan peluang yang tidak boleh lewat.Kedekatan relatif kawasan Sulawesi dengan IKN membuka peluang terbentuknya rantai pasok baru. Sulawesi Barat dapat mengambil peran sebagai salah satu pemasok kebutuhan pangan, bahan baku industri, produk perikanan, dan komoditas unggulan bagi kawasan IKN dan Kalimantan.

Arah pengembangan wilayah Sulawesi Barat sendiri telah menempatkan daerah ini dalam perspektif sebagai penunjang ekonomi IKN dan industri berbasis sumber daya alam, dengan konektivitas antarwilayah sebagai salah satu kunci rantai nilai.

Karena itu, membangun jalan, pelabuhan dan konektivitas udara bukan semata proyek infrastruktur. Ia adalah investasi untuk membuka pintu pasar.

“Sulawesi Barat harus melihat IKN bukan hanya sebagai pusat pemerintahan baru, tetapi sebagai pasar strategis baru Indonesia”.

Jika rantai pasok pangan IKN berkembang, maka petani Sulbar tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah. Mereka harus naik kelas menjadi bagian dari ekosistem produksi, pengolahan, distribusi dan perdagangan modern.

Dari lumbung pangan menjadi pusat agroindustri.Data BPS menunjukkan bahwa ekonomi Sulawesi Barat pada 2025 tumbuh 5,36 persen. Pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi motor utama perekonomian daerah.

Ini sekaligus menjadi pesan penting.Sulawesi Barat tidak perlu mencari identitas ekonomi yang jauh dari kekuatan sendiri. Tanah pertanian, perkebunan, laut dan sumber daya pesisir adalah modal masa depan.

Produksi padi Sulawesi Barat pada 2025 mencapai sekitar 386,08 ribu ton gabah kering giling, setara sekitar 221,74 ribu ton beras. Produksi tersebut tumbuh 21,08 persen dibandingkan 2024.Tetapi produksi saja tidak cukup.

Tantangan berikutnya adalah hilirisasi. Kakao harus melahirkan industri cokelat. Kelapa tidak berhenti sebagai kopra. Pisang, kopi, sawit, hasil peternakan dan berbagai komoditas pertanian harus masuk ke industri pengolahan. Begitu pula hasil laut: ikan tuna, cakalang, udang, rumput laut dan komoditas perikanan lainnya harus mempunyai rantai dingin, industri pengolahan dan akses pasar yang kuat.

Dengan demikian, petani dan nelayan tidak hanya menjual komoditas, tetapi memperoleh nilai tambah dari setiap mata rantai ekonomi.

Sulawesi Barat memiliki garis pantai dan sumber daya laut yang dapat menjadi bagian penting dari ekonomi biru Indonesia.Namun ekonomi biru tidak cukup dengan menangkap ikan sebanyak-banyaknya.

Ia membutuhkan teknologi, pelabuhan perikanan, cold storage, industri pengolahan, pembiayaan, kepastian pasar dan sumber daya manusia.

“Di sinilah peluang Sulawesi Barat bertemu dengan kebutuhan IKN dan kawasan Timur Indonesia.

Dari laut Sulawesi Barat, kita dapat membangun rantai pangan berbasis perikanan yang menghubungkan pesisir Sulbar dengan pasar Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur.

Konsep ini menjadikan Sulawesi Barat bukan sekadar daerah produksi, tetapi simpul distribusi pangan dan komoditas strategis.

Tantangan : jangan sampai pertumbuhan tidak menjadi kesejahteraan.Namun, optimisme harus disertai kejujuran.

Kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar. BPS mencatat persentase penduduk miskin Sulawesi Barat pada September 2025 sebesar 10,18 persen atau sekitar 149,88 ribu jiwa. Angka itu menurun dibandingkan Maret 2025, tetapi masih menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus terus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan.

Lebih jauh, Bank Indonesia mencatat pada triwulan II 2026 ekonomi Sulawesi Barat tumbuh 5,20 persen secara tahunan. Namun sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menghadapi perlambatan, antara lain karena replanting sawit, risiko El Niño dan keterbatasan produksi perikanan.

Artinya, masa depan Sulbar tidak boleh dibangun hanya dengan mengandalkan komoditas mentah.

Diperlukan transformasi struktural: dari ekonomi berbasis produksi menuju ekonomi berbasis produktivitas, teknologi, hilirisasi dan inovasi.

Membangun Sulbar sebagai eficentrum Timur Indonesia.Istilah eficentrum dapat kita maknai sebagai pusat penggerak atau simpul strategis pertumbuhan.

Sulawesi Barat memiliki peluang untuk membangun posisi tersebut,bukan dengan mengalahkan daerah lain, tetapi dengan membangun konektivitas dan kolaborasi antardaerah.

Sulbar dapat menjadi simpul yang menghubungkan petani dengan pasar, nelayan dengan industri, desa dengan kota, Sulawesi dengan Kalimantan, dan Indonesia Timur dengan rantai ekonomi nasional.

Untuk itu, ada beberapa agenda besar yang harus dikerjakan secara konsisten,antara lain,

 

Pertama,mempercepat konektivitas transportasi darat, laut dan udara menuju sentra produksi.

Kedua,memperkuat hilirisasi pertanian, perkebunan dan perikanan agar nilai tambah tinggal di daerah.

Ketiga,membangun SDM unggul dan melek teknologi, terutama generasi muda.

Ke empat, mengembangkan ekonomi digital agar UMKM, petani, nelayan dan pelaku ekonomi desa dapat masuk ke pasar yang lebih luas.

Ke lima,memperkuat ketahanan pangan sekaligus ekonomi biru, dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.

Yang tidak kalah penting, pembangunan harus memastikan bahwa desa tidak menjadi penonton. Desa harus menjadi pusat produksi sekaligus pusat pertumbuhan baru.

22 tahun, saatnya mengubah cara pandang.Hari jadi seharusnya tidak berhenti pada seremoni, spanduk dan pidato.namun Hari jadi adalah momentum untuk memperbarui keberanian.

Sulawesi Barat harus berani keluar dari paradigma sebagai daerah yang hanya menunggu investasi datang. Kita harus membangun daerah yang siap menyambut investasi, siap memasok pasar, siap mengolah komoditas, dan siap melahirkan SDM kompetitif.

IKN menghadirkan peluang besar,tetapi peluang tidak otomatis menjadi kesejahteraan.Peluang hanya menjadi masa depan ketika disambut dengan kesiapan.

Karena itu, 22 tahun Sulawesi Barat seharusnya menjadi titik balik dari provinsi yang sedang berkembang menjadi provinsi yang memiliki posisi strategis dalam arsitektur ekonomi Indonesia Timur.

Sulawesi Barat memiliki tanah.laut,komoditas,manusia,letak geografis yang strategis.

Yang dibutuhkan sekarang adalah visi yang panjang, kebijakan yang konsisten, konektivitas yang kuat, hilirisasi yang nyata dan kolaborasi lintas daerah.

Jika itu dilakukan, maka suatu hari kita tidak hanya berbicara tentang Sulawesi Barat sebagai daerah penyangga IKN.

Kita dapat berbicara tentang Sulawesi Barat sebagai salah satu gerbang pangan, pusat ekonomi biru, dan eficentrum pertumbuhan Indonesia Timur.

Selamat Hari Jadi ke-22 Sulawesi Barat.Dua puluh dua tahun adalah usia untuk mengenang perjuangan.Tetapi lebih dari itu, usia 22 tahun adalah saatnya menjemput masa depan.

Sulbar Malaqbiq—maju, produktif, terkoneksi, dan menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *