banner 728x250

Lahan Pertanian Indonesia 70 Persen Rendah Kandungan Organik

banner 120x600
banner 468x60

PARE-PARE,LINGNUSA. COM – Oleh Sudarmin, Praktisi Pertanian dan Pemerhati Petani Kota Parepare.

Krisis senyap tengah menggerogoti sektor pertanian kita: 70 persen lahan pertanian Indonesia kini tergolong miskin bahan organik. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahaya bagi masa depan pangan nasional.

banner 325x300

*Tanah Semakin Sakit, Petani Semakin Tercekik*

Bahan organik adalah “ruh” dari tanah subur. Ia memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas serap air, serta menyediakan nutrisi alami bagi tanaman. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan, petani kita telah terlalu lama dipaksa mengandalkan pupuk kimia dalam pola tanam instan. Hasilnya? Tanah makin keras, hasil panen menurun, biaya produksi meningkat.

Lebih miris lagi, sebagian petani bahkan tidak mengetahui bahwa tanah yang mereka garap sudah masuk kategori “sakit”. Pemerintah pusat pernah mengakui dalam laporan Kementerian Pertanian bahwa mayoritas lahan sawah di Pulau Jawa—sentra produksi padi nasional—memiliki kandungan bahan organik di bawah ambang sehat.

*Ironi Negeri Agraris*

Kita sering membanggakan diri sebagai negeri agraris, namun ironis jika tanah-tanah pertanian kita makin miskin unsur kehidupan. Ketahanan pangan mustahil dicapai jika kita terus menanam di atas lahan yang sekarat.

Sebagai praktisi pertanian, saya menyaksikan langsung dampak kerusakan tanah ini terhadap petani di lapangan. Banyak di antara mereka terjebak dalam lingkaran setan: hasil panen tak menentu, biaya pupuk tinggi, dan kesuburan tanah menurun. Tanpa intervensi serius, kita sedang menyusun resep pasti menuju krisis pangan.

Solusi Tidak Bisa Ditunda Lagi

Kita butuh revolusi pendekatan. Gerakan nasional perbaikan tanah melalui revitalisasi bahan organik harus dimulai sekarang. Pemerintah mesti keluar dari pendekatan konvensional. Subsidi pupuk jangan hanya pupuk kimia. Berikan insentif bagi petani yang menerapkan pertanian organik, agroekologi, atau sistem pertanian terpadu.

Di tingkat daerah, dinas pertanian harus berani menjadi pelopor. Kota Parepare, misalnya, memiliki peluang besar menjadi model daerah yang memulihkan tanah dengan pendekatan ramah lingkungan. Petani kita tidak butuh seminar—mereka butuh pendampingan, teknologi tepat guna, dan keberpihakan nyata.

Jangan Biarkan Petani Berjuang Sendiri

Pertanian bukan sekadar urusan produksi pangan, tetapi soal keberlanjutan hidup. Jika negara lalai memelihara tanahnya, maka masa depan generasi kita dipertaruhkan. Kita bisa hidup tanpa gadget, tapi tidak tanpa pangan. Dan pangan tidak akan tumbuh dari tanah yang mati.

Sudah waktunya kita berdiri bersama petani. Memulihkan tanah berarti memulihkan harapan.

Tutup Pak Sudarmin yg merupakan pemerhati Petani dan Praktisi Pertanian dari kota Parepare Sulawesi Selatan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *