BARRU  

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BARRU, Lingnusa.com,-26 FEBRUARI 2026

*Perihal: Jeritan Hati anak yatim dibawah umur dari Barru Sulawesi Selatan yg kehilangan keadilan* 

 *Tabe’,Bapak Presiden Prabowo Subianto yg saya Hormati* 

Izinkan saya, seorang anak yatim yang bau tanah makam ayahnya bahkan belum hilang, mengundang Bapak untuk menyaksikan pertunjukan ” komedi ” hukum yang luar biasa di Kabupaten Barru.

Beberapa minggu yang lalu, saat air mata saya belum kering karena kehilangan pelindung hidup saya, seorang “Tuan Besar” yang konon katanya adalah Staf Ahli DPRD datang bukan untuk melipur lara, melainkan untuk memberikan cinderamata berupa pikiran dan dorongan keras ke tubuh saya. Mungkin bagi beliau, pipi seorang anak yatim adalah samsak terbaik untuk menunjukkan kekuasaan.

Namun, keajaiban sebenarnya terjadi di ruang sidang Pengadilan Negeri Barru. Di hadapan *Majelis Hakim yang teramat mulia dan jaksa penuntut umum si paling benar* , hukum kita tiba-tiba menjadi sangat “pemaaf” dan “pengertian.”

Bantuan Pihak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), pun hanya sebagai “macan ompong” yg taringnya ditelan sendiri TDK memberikan dampak sama sekali atas apa yg dilindunginya.

Selamat kepada Sang Pelaku!

Vonis 6 bulan penjara telah tiba. Namun, berkat “kemurahan hati” hukum yang hanya berpihak pada mereka yang punya jabatan, vonis itu hanyalah deretan angka di atas kertas. * Pelaku tidak perlu masuk penjara .* Dia tetap bebas menghirup udara segar, sementara saya harus sesak napas setiap kali mengingat tangan besarnya mendarat di wajah saya.

Mungkin bagi Majelis Hakim, kesedihan anak yatim hanyalah catatan kaki yang tidak penting dibandingkan kenyamanan seorang pejabat.

Bapak Presiden Prabowo,

Anda sering mengatakan bahwa orang kecil harus bergantung pada hakim yang adil. Hari ini, di Barru, saya kehilangan pegangan itu. Hukum di sini tampaknya hanya buta tuli tetapi hanya buta tuli ke arah mereka yang berkuasa.

 

Melalui surat terbuka ini, saya tidak lagi meminta belas kasihan dari mereka yang diselimuti hitam di Barru, karena hati nurani mereka mungkin sedang tertidur lelap. Saya mengetuk pintu hati Bapak Presiden. Apakah di negeri tempat Bapak pimpin ini, menampar anak yatim yang sedang berkabung adalah sebuah prestasi yang patut dibayar dengan kebebasan…?

 

Jika keadilan di Barru telah mati dan dikubur bersama ayah saya, mungkinkah Bapak bisa membantu saya menggalinya kembali…?

 

Hormat saya,

 

TTD

Anak yatim dibawah umur yang Terzolimi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *